Tampilkan postingan dengan label Z300. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Z300. Tampilkan semua postingan

TAMASYA DALAM HIPEREALITAS, Umberto Eco

Umberto Eco - Novelis, pakar semiotika, dan kritikus budaya yang luar biasa - dalam buku Tamasya dalam Hiperealitas memperlihatkan kecerdasan, pembelajaran dan kecemerlangan inteligensi sebagaimana yang membuat para pembaca The Name of the Rose, Foucalt's Pendulum, dan Baudolino merasa begitu terhibur. Cakupan tulisan Eco dalam buku ini sangat luas- mulai dari budaya pop hingga filsafat, dari People's Temple hingga Thomas Aquinas, dari Casablanca hingga Roland Barthes.

Esai pembuka Tamasya dalam Hiperealitas memperlihatkan ketekunan dan pencarian sang pengarang yang bertamasya melintasi seluruh daratan Amerika manakala ia sedang mencari tempat untuk menyelidiki perbatasan realisme, jiplakan (copy) yang menjanjikan lebih ketimbang yang asli, seperti museum lilin, hall of fame, theme park, kebun binatang. Dalam "Kembalinya Abad Pertengahan" Eco melontarkan berbagai pertanyaan tentang modernitas kita; sedang dalam "Desa Global" Eco bergerak dari media massa ke olahraga massal. Ada juga mutiara-mutiara kecil yang berlimpah, seperti dalam esai "Pemikiran Lumbar" Eco mengamati bagaimana blue jeans telah membentuk manusia.

Wawasan Eco dalam esai-esai ini sangat tajam, tak jarang bernada ironis, dan seringkali sungguh jenaka. Mengutip San Fransisco Chronicle, Eco memiliki "begitu banyak wawasan untuk mengajari kita semua tentang pentingnya (tidak menyebutkan kepuasan) observasi dan kritisisme, karena kedua persoalan inilah yang mengistimewakan-dan, sebagaimana dikatakannya, mewajibkan-seluruh umat manusia yang berpikir."

"Eco memikirkan hampir segala hal di seluruh dunia-holografi, museum lilin, 'Kembalinya Abad Pertengahan', Superman dan Casablanca, Frederico Fellini dan Michaelangelo Antonioni, sekte agama Afrika kuno yang masih bertahan serta cara pemujaan di Brazil kontemporer, Jim Jones dan People's Temple-nya, Brigade Merah dan terorisme secara umum, Marshall McLuhan dan Charles Manson, Woody Allen dan Santo Thomas Aquinas, implikasi sosial maupun personal dari blue jeans ketat dan makna rahasia dari olahraga tontonan... begitu banyak kesenangan yang ditemukan dalam seluruh eksplorasi Eco ini."
-New York Times Book Review

Rp 104.000
Rp 115.000
Beli Sekarang
Tersedia
Berat (gram)700


INFO BUKU

Judul: Tamasya dalam Hiperealitas
Penulis: Umberto Eco
Penerbit: Jalasutra
Edisi: Cetakan III, 2009
Halaman: 455
Ukuran: 15 x 21 x 2cm
Sampul: Soft Cover
Bahasa: Indonesia
Kondisi: Buku Baru
Lokasi: 306/Eco/t

IMAJI MUSIK TEKS ANALISIS SEMIOLOGI ATAS FOTOGRAFI IKLAN FILM MUSIK ALKITAB PENULISAN DAN PEMBACAAN SERTA KRITIK SASTRA, Roland Barthes

Buku Imaji Musik Teks ini memuat gagasan-gagasan kunci Roland Barthes tentang analisis struktural narasi serta beberapa naskah mengenai teori literasi, semiotika fotografi dan film, serta musica practica, dan suara.

Di dalam karya ini kita akan merasakan peralihan setahap demi setahap dari karya menuju teks: suatu penjelajahan sampai ke jeroan aktivitas penandaan serta kemauan untuk mengikut gerak segala sesuatu yang berubah, berpindah, diganti, tersebar—di dalam karya sastra, imaji, film, lagu, dan teater.

Terjemahan Stephen Heath ke dalam Bahasa Inggris terhadap karya-karya Roland Barthes ini disebut-sebut sebagai pekerjaan yang ‘telaten dan layak dibaca’ (TLS) serta ‘sangat brilian’ (TES). Minatnya terhadap pemikiran Roland Barthes tidak bisa dibilang main-main. Dia melakukan studi khusus tentang pemikiran Roland Barthes, hasil penelusurannya tertuang dalam buku Vertige du déplacement. Naskah-naskah pilihannya, yang merupakan naskah-naskah unggulan, juga berfungsi sebagai ‘pengantar terbaik, setidak-tidaknya sampai sekarang ini, untuk melihat kekuatan Barthes sebagai pembunuh mitos kontemporer’ (John Sturrock, New Statesmen).

Rp 61.000
Rp 67.000
Beli Sekarang
Tersedia
Berat (gram)700


INFO BUKU

Judul: Imaji Musik Teks, Analisis Semiologi atas Fotografi, Iklan, Film, Musik, Alkitab, Penulisan dan Pembacaan serta Kritik Sastra
Penulis: Roland Barthes
Penerbit: Jalasutra
Edisi: 2010
Halaman: 232
Ukuran: 14 X 21 cm
Sampul: Soft Cover
Bahasa: Indonesia
Kondisi: Buku Baru
Lokasi: 070/Bar/i

MEMBEDAH MITOS-MITOS BUDAYA MASSA, Roland Barthes

Buku Membedah Mitos-Mitos Budaya Massa memperlihatkan kepemurahan yang elok akan minat progresif Barthes terhadap makna (dia menyebutnya signifikasi) ihwal hampir segala sesuatu di sekitarnya, bukan hanya buku-buku dan lukisan seni tinggi, tetapi juga pelbagai slogan, hal-hal sepele, boneka, makanan, dan ritual pop (berlayar, striptease, makan, pertandingan gulat) dalam kehidupan kontemporer. (Edward W. Said)

Inilah buku karya Roland Barthes yang paling banyak dibaca, yang memperlihatkan bahwa Barthes adalah analis yang paling jeli ihwal sosiopatologi kehidupan sehari-hari. Buku ini memiliki cakupan yang luas tentang berbagai praktik, peristiwa, dan objek budaya mulai dari foto, makanan di majalah hingga gagasan tentang serangan alien, dari gambar ikonik wajah Greta Garbo hingga cara bagaimana mobil, busa sabun, dan genre sastra diperjualbelikan kepada bublik dari liputan media tentang skandal tingkat tinggi hingga retorika politikus, dari ritual agama massa hingga dampak pameran seni pop, serta dari bahasa yang berseliweran di seputar peristiwa olahraga seperti Tour de France hingga refleksi puitis akan menara Eiffel. Dalam buku ini Barthes terus-menerus memainkan gagsasan alam/budaya (nature/culture) sebagai manifestasi perbedaan antara Universal/historis. Permasalahannya, keseluruhan mitologi budaya massa menyajikan wajah ideologis universalitas (kealamian) ketika sebenarnya mereka mempromosikan seperangkat gagasan historis/partikular.

Setelah membaca buku Membedah Mitos-Mitos Budaya Massa, Anda akan melihat kehidupan keseharian dalam suatu pemahaman baru. Barthes mengajari kita untuk tidak lagi melihat dunia dengan mata sang penerima pengakuan dosa, atau fisikawan, tetapi dengan mata manusia yang berjalan-jalan di kotanya tanpa horison apa pun selain tontonan semata di hadapannya, tanpa kekuasaan selain matanya sendiri. Dan, secara signifikan, ajaran yang dikemukakannya disuarakan secara unik karena bersifat sangat intim namun tidak pribadi, bertanggung jawab namun tidak suka mencampuri urusan orang lain, meyakinkan namun tidak menuduh. Barthes laksana Ariadne, sang putri Raja Minos dari Kreta yang memberi Theseus bola benang agar bisa keluar dari labirin setelah membunuh Monotaur. Boleh jadi benang yang Barthes berikan untuk menelesuri labirinan kota kita beserta kehidupan kesehariannya adalah paradoks yang tidak dapat kita harapkan dari pemikir lain, yaitu mengajak kita keluar dari labirin untuk kemudian masuk lebih dalam lagi.

Rp 75.000
Rp 83.000
Beli Sekarang
Tersedia
Berat (gram)700


INFO BUKU

Judul: Membedah Mitos-Mitos Budaya Massa: Semiotika atau Semiologi Tanda, Simbol dan Representasi
Penulis: Roland Barthes
Penerbit: Jalasutra
Edisi: Cetakan I, Juli 2006
Halaman: 364
Ukuran: 15 x 21 x 2 cm
Sampul: Soft Cover
Bahasa: Indonesia
Kondisi: Buku Baru
Lokasi: 070/Bar/m

BUDAYA POPULER DI INDONESIA MENCAIRNYA IDENTITAS PASCA ORDE BARU, Ariel Heryanto

Buku ini mengkaji budaya populer di Indonesia, negeri dengan penduduk Muslim terbanyak dan berkiblat pada sistem demokrasi terbesar ketiga di dunia. Buku ini menyajikan gambaran lengkap kecenderungan penting yang muncul sejak jatuhnya rezim otoriter Suharto (1998), masa terjadinya perubahan besar-besaran di Indonesia secara umum. Buku ini juga menguraikan bagaimana salah satu akibat terpenting dari pertumbuhan industrialisasi di Asia Tenggara sejak tahun 1980-an ialah perluasan konsumsi dan berbagai bentuk baru media, dan Indonesia merupakan contoh terbaik atas perkembangan tersebut.

Buku ini juga menggambarkan kendati krisis ekonomi yang terjadi di Asia tahun 1997 memberi dampak langsung dan pengaruh negatif pada pemerintah yang tengah berkuasa, dan pada kehidupan sosio-ekonomi masyarakat di seluruh kawasan, di saat yang sama budaya populer secara dramatis mengalami kebangkitan yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Analisis terhadap berbagai tema penting dimuat dalam buku ini, termasuk aktivisme politik dan kewarganegaraan, jender, kelas sosial, dan etnisitas.

Secara keseluruhan, buku ini menunjukkan bagaimana proses pembentukan identitas yang berlapis-lapis dan saling-bertentangan di Indonesia teranyam erat dengan budaya populer. Sumber asli terjemahan ini mungkin merupakan salah satu buku berbahasa Inggris pertama yang mengupas media dan budaya populer di Indonesia. Dengan demikian buku ini diharapkan akan memberikan sumbangan penting bagi kepustakaan budaya populer di Asia, dan akan bermanfaat bagi siapa saja yang tertarik dengan perkembangan terbaru media dan budaya populer di Indonesia dan Asia.

Rp 65.000

Beli Sekarang
Sold
Berat (gram)700


INFO BUKU

Judul: Budaya Populer di Indonesia Mencairnya Identitas Pasca Orde Baru
Penulis: Ariel Heryanto (ed)
Penerbit: Jalasutra
Edisi: 15 x 23 cm
Halaman: 320
Ukuran: 15 x 23 cm
Sampul: Soft Cover
Bahasa: Indonesia
Kondisi: Buku Baru
Lokasi: 

ELEMEN ELEMEN SEMIOLOGI, Roland Barthers

Dalam karyanya, Ferdinand de Saussure mendalilkan eksistensi ilmu tanda atau semiologi yang luas cakupannya, di mana linguistik hanyalah salah satu cabangnya. Dari posisi di mana Saussure berhenti, buku yang Anda pegang ini melanjutkan apa yang sudah diawali oleh Saussure. Berkebalikan dengan pendapat yang diutarakan Saussure, Barthes dalam buku ini menawarkan pandangan yang menyatakan bahwa semiologi hanyalah cabang dari linguistik. Dari akar konsep-konsep analitis linguistik inilah Barthes dengan cerdas berhasil menyarikan elemen-elemen semiologi dan menyulamnya menjadi format yang lebih strukturalis dan sinkronik.

Elemen-elemen yang Barthes tampilkan dalam buku ini, meski agak longgar dan relatif kurang patuh pada model linguistik secara ketat, ditujukan untuk mengusulkan dan menjelaskan suatu terminologi dengan harapan bisa menyusun suatu fondasi awal dari begitu beragamnya fakta yang serba penting tentang semiologi. Dan seperti halnya semua teori kritis murni, buku ini benar-benar padat dan ringkas.

Sebagai naskah awal tentang semiologi yang ditulis saat kajian ini mulai dibangun, buku ini akan memberi para pembacanya fondasi semiologis yang solid untuk membangun pengetahuan tentang strukturalisme, linguistik, atau semiologi yang lebih meluas dan spesifik. Inilah buku pembuka bagi siapa pun yang berharap ingin memahami elemen-elemen esensial ini. Buku ini penting bagi mahasiswa sastra dan cultural studies.

Rp 58.000

Beli Sekarang
Tersedia
Berat (gram)700


INFO BUKU

Judul: Elemen-elemen Semiologi
Penulis: Roland Barthers
Penerbit: Jalasutra
Edisi: 2012
Halaman: 120
Ukuran: 14 x 21 cm
Sampul: Soft Cover
Bahasa: Indonesia
Kondisi: Buku Baru
Lokasi: 

KELISAN DAN KEAKSARAAN, Walter J. Ong

Lisan dan Tulisan bukan semata soal media, sarana, yang dipakai untuk berkomunikasi, lalu yang satu menggeser dan menggantikan yang lain. Benar bahwa memandangnya semata sebagai ‘sarana’, tampak apa yang disebut ‘tulisan’ demikian Berjaya. Tetapi menengoknya dengan lebih mendalam, akan terlihat bahwa kelisanan dan keberaksaraan adalah fenomena yang rumit, kompleks dan tindih menindih, serta silang menyilang.

Walter J. Ong menyajikan kepada kita topik yang jarang disentuh ini melalui pendekatan historisnya yang jauh dan luas. Ia menunjukkan bagaimana sistem tulisan yang kemudian diiringi teknologi cetak memang mengurangi dan menurunkan tradisi kelisanan. Namun semua itu tak memerosotkan pengaruh kelisanan sebagai suatu mentalitas. Dalam tradisi tulis membayang terus cara berpikir lisan. Kelisanan hadir seperti teror terhadap pemikiran yang sedemikian rupa ditata dan dirapikan dalam teknologi tulisan.

Rp 63.000

Beli Sekarang
Tersedia
Berat (gram)700


INFO BUKU

Judul: Keliasan dan Keaksaraan
Penulis: Walter J. Ong
Penerbit: Gading
Halaman: 314
Ukuran: 14.5 X 21 cm
Sampul: Soft Cover
Bahasa: Indonesia
Kondisi: Buku Baru
Lokasi: 

BAHASA SASTRA DAN BUDAYA INDONESIA DALAM JEBAKAN KAPITALISME, Sapardi Djoko Damono dkk

Kapitalisme bukan hanya sekedar sebuah sistem perekonomian melainkan lebih dari itu sebuah sistem sosial yang menyeluruh. Sistem itu dipandang sebagai suatu pandangan hidup yang terfokus pada upaya memperoleh keuntungan yang besar. Munculnya kapitalisme memang diwarnai semangat Aufklärung yang amat mementingkan kemerdekaan (freedom of thoughts, freedom of expression, freedom of life). Liberalisme dan kemudian neo-liberalisme adalah anak kandung yang lahir dari rahim kapitalisme. Asumsi dasarnya sangat mulia, bahwa jika setiap individu diberi kebebasan untuk berusaha, maka secara alamiah dia akan berkembang mencapai kesejahteraan ekonomi. Jiwa masyarakat kapitalisme sarat dengan harapan dan semangat ekonomi yang tinggi. Pada masa-masa awal pertumbuhan sistem kapitalisme, harapan masyarakat (Eropa) akan datangnya zaman berperadaban baik dan sempurna bersinar begitu cerah.

Dalam kenyataannya, cita-cita kapitalisme untuk mewujudkan tata masyarakat dan tata dunia yang manusiawi tidak kunjung terwujud. Kondisi dunia yang telah dihegemoni oleh kekuatan kapitalisme global yang mencengkram menghasilkan kehidupan yang kontradiktif. Dampak negatif dari sistem kapitalisme ternyata sangat mengejutkan. Proses alienasi masih terus berjalan. Penderitaan dan kecemasan manusia semakin besar. Disparitas antara pemilik kapital dan kaum pekerja semakin besar. Tenaga kerja manusia direduksi menjadi sarana modal produksi.

Semakin subur lahan kapitalisme di sebuah negara, seharusnya semakin berkembang pulalah kritik yang tajam atasnya. Sistem yang pongah itu tak bisa dibiarkan bersimaharajalela tanpa kritik. Ketidak-seimbangan hubungan kekuasaan (buruh-majikan, petani-tuan tanah, wanita-pria, desa-kota, tradisional-modern) menimbulkan banyak persoalan kemanusiaan. Eksploitasi sumber daya alam dan sumber daya manusia demi kepentingan pemilik modal menjadi persoalan humanistik bangsa yang menuntut untuk dipersoalkan.

Diskursus-diskursus keilmuan, termasuk ilmu bahasa, sastra, dan budaya di Indonesia telah lama terjebak dalam sistem kapitalisme. Buku ini telah ikut mencoba merunut, memaknai, mencari alternatif agar jebakan kapitalisme itu tidak sampai menciptakan disparitas, alienasi, dan degradasi nilai manusia menjadi sekadar komoditas. Itulah sumbangan humaniora bagi bangsa ini, yaitu menghargai martabat luhur manusia dan turut menciptakan keadilan sosial bangsa Indonesia.

Rp 74.000

Beli Sekarang
Tersedia
Berat (gram)700


INFO BUKU

Judul: Bahasa, Sastra, Dan Budaya Indonesia Dalam Jebakan Kapitalisme
Penulis: Sapardi Djoko Damono
Penerbit: Universitas Sanata Dharma
Edisi: 2011
Halaman: 4205
Ukuran: 16 X 23 cm
Sampul: Soft Cover
Bahasa: Indonesia
Kondisi: Buku Baru
Lokasi: 

SEMIOTIKA VISUAL KONSEP ISU DAN PROBLEM IKONISITAS, Kris Budiman

“… Semiotika memang mengkaji tanda-tanda atau, lebih tepatnya, relasi tanda-tanda. Yang menjadi kata kuncinya disini adalah relasi , bukan tanda itu sendiri. Semiotika mengkaji relasi tanda, yakni relasi tanda yang satu dengan tanda-tanda yang lain; relasi tanda-tanda dengan makna-maknanya atau objek-objek yang dirujuknya (designatum); dan relasi tanda-tanda dengan para penggunanya, interpreter-interpreternya.”

Rp 51.000

Beli Sekarang
Tersedia
Berat (gram)700


INFO BUKU

Judul: Semiotika Visual Konsep Isu Dan Problem Ikonisitas
Penulis: Kris Budiman
Penerbit: Jalasutra
Edisi: 2011
Halaman: 212
Ukuran: 14 X 21 cm
Sampul: Soft Cover
Bahasa: Indonesia
Kondisi: Buku Baru
Lokasi: 

Kode: Masukkan kode negara.
Telepon: Masukkan nomor telepon.


Checkout Sekarang