Tampilkan postingan dengan label Z372-6. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Z372-6. Tampilkan semua postingan

PENDIDIKAN PUSAKA INDONESIA, Anastasia Melati

Sebuah memorandum Of Understanding (MOU) ditandatangani pada Mei 2008 oleh Ketua Badan Pelaksana Pustaka Indonesia/BPPI (Indonesia Heritage Trust) Setyanto P. Santoso dan Direktur Erfgoed Nederland/EN (The Netherlands Institute For Heritage/Institut Pusaka Belanda) Richard Hermans di Kedutaan Besar Belanda di Jakarta. Salah satu butir utama dalam memo kesepahaman tersebut adalah sebuah proyek bernama Pendidikan Pusaka untuk Sekolah Dasar di Indonesia selama 2 tahun. Proyek ini bertujuan untuk membuat anak-anak Indonesia menyadari berbagai macam pusaka yang mengelilingi mereka, sehingga mereka dapat memiliki apresiasi yang lebih baik. Sehingga mereka dapat memiliki apresiasi yang lebih baik. Sehingga hasilnya, diharapkan bahwa generasi berikutnya akan memiliki kesadaran yang lebih baik dalam memahami dan melestarikan pusaka bagi generasi mendatang sebagai tanggungjawab bersama. Kesadaran masyarakat merupakan faktor kunci dalam pelestarian pusaka masa depan. Tetapi yang lebih penting, proyek ini ingin menunjukan bahwa pusaka ini menyenangkan untuk dipelajari dan dapat digunakan dengan berbagai cara dalam pendidikan secara umum dan Sekolah Dasar khususnya.

Hubungan antara pelajaran sekolah dan kurikulum sekolah merupakan salah satu pengalaman yang dikumpulkan melalui pendidikan pusaka yang telah diimplementasikan di belanda sejak dekade terakhir. Erfgoed Nederland Merupakan salah satu organisasi yang memiliki pengalaman ini karena terlibat dalam beberapa proyak pendidikan pusaka.

BPPI dan EN kemudian bekerjasama denga Pusat Kurikulum Badan Penelitian dan Pengembangan, Kementrian Pendidikan Nasional; Pusat Pelestarian Pusaka Arsitektur, Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik Universitas Gajah Mada; dan kantor UNESCO Jakarta melaksanakan proyek pendidikan pusaka ini. Yogyakarta telah dipilih sebagai lokasi awal pelaksanaan proyek karena telah menjadi pusat pelestarian pusaka yang aktif, dan memiliki banyak pusaka baik di Yogyakarta maupun daerah sekitarnya. Yogyakarta juga dianggap sebagai pusat kebudayaan, terkenal dengan batik tulis maupun cap, musik gamelan, wayang dan berbagai jenis kerajinan baik tradisional maupun kontemporer. Lebih jauh lagi, Yogyakarta yang dikenal sebagai kota pelajar dikelilingi oleh banyak desa-desa yang memproduksi baragam kerajinan. Dengan melibatkan sekolah-sekolah di wilayah kota dan desa, metode-metode pendidikan pusaka yang dapat digunakan dalam situasi yang berbeda dapat diidentifikasi.

Pengalaman dan bahan-bahan yang dikembangkan dalam proyek di Yogyakarta akan disebarluaskan ke daerah lain Indonesia, termasuk penyusunan buku Panduan Pendidikan Pusaka untuk guru dengan muatan pusaka masing-masing daerah.

Rp 35.000

Beli Sekarang
Tersedia
Berat (gram)700


INFO BUKU

Judul: Pendidikan Pusaka Indonesia
Penulis: Anastasia Melati dkk
Penerbit: Badan Pelestarian Pusaka Indonesia
Edisi: 2010
Halaman: 118
Ukuran: 17.6 x 25 x 1 cm
Sampul: Soft Cover
Bahasa: Indonesia
Kondisi: Buku Bekas Koleksi Pribadi
Lokasi: 370/Mel/p

KEAKSARAAN MELALUI BAHASA IBU, Dr. Sudjarwo (ed.)

Kompleksitas persoalan yang dihadapi dalam rangka memberantas kebutaakasaraan penduduk mendorong Direktorat Pendidikan Masyarakat, Direktorat Jenderal Pendidikan Luar Sekolah, Depdiknas, terus mencari berbagai alternatif terobosan. Hal ini tidak lain karena berdasarkan data BPS tahun 2005, angka buta aksara penduduk Indonesia usia 15 tahun keatas masih sebesar 14,595,088 orang atau 9,55%, dan pada tahun 2006 semester pertama sebesar 13,182,492 orang atau 8,36%. Angka tersebut harus diturunkan menjadi 5% pada akhir tahun 2009. Selain target penurunan angka tersebut tinggi, juga karena memang tidak mudah memelekaksarakan penduduk yang sudah berusia diatas 15 tahun. Ini berarti perlu terobosan khusus, baik dari segi pendekatan maupun metodologi pembelajaran keaksaraan. Satu diantara berbagai upaya tersebut adalah pengembangan pendidikan keaksaraan dengan memanfaatkan bahasa ibu.

Pengembangan pendidikan keaksaraan melalui bahasa ibu sangat relevan untuk dibudayakan karena kita memiliki banyak ragam bahasa ibu yang tersebar di seantero Indonesia. Selain itu bahasa ibu juga akan menjadi jembatan untuk mempermudah mempelajari bahasa Indonesia. Data menunjukkan tidak kurang dari 737 bahasa daerah yang dewasa ini masih aktif digunakan dan tersebar dari ujung paling timur Indonesia, di pulau papua, sampai dengan paling ujung barat Indonesia, di pulau Sumatera. Bahasa jawa dan sunda merupakan bahasa ibu yang paling terbesar pertama dan kedua di Indonesia dengan jumlah penutur masing-masing 75 juta dan 27 juta jiwa.

Bahasa ibu atau lebih populer disebut dengan bahasa daerah, sebagaimana juga bahasa bahasa pada umumnya, mencerminkan karakteristik, tata nilai, alam pikir, wawasan lingkungan, dan budaya masyarakat penuturnya. Mengembangkan pendidikan keaksaraan melalui bahasa ibu berarti mendekatkan dan mengakrabkan substansi/ materi keaksaraan dengan alam pikir, pengalaman, dan budaya masyarakat pembelajar sendiri, dari ini mudah dipaham mengapa pengguna bahasa ibu dalam pendidikan keaksaraan dipandang mampu mempercepat pencapaian target pemberantasan buta aksara. Sebab belajar aksara dengan bahasa ibu, seseorang akan tetap menjadi dirinya, tidak merasa jadi orang "asing" boleh jadi justru pembelajaran makin mengenali budaya dan lingkungan, sehingga makin fungsional bagi pengembangan iri dan kehidupannya. Dengan demikian pengembangan pendidikan keaksaraan melalui pendekatan bahasa ibu, jika berjalan dengan baik, tetapi juga mampu memberdayakan mereka sesuai dengan alam pikir, lingkungan dn budayanya sendiri. Selain itu juga akan memperkuat kemampuan bahasa Indonesianya, karena kosa kata yang dikuasainya tidak akan mudah hilang.

Rp 35.000

Beli Sekarang
Tersedia
Berat (gram)700


INFO BUKU

Judul: Keaksaraan Melalui Bahasa Ibu
Editor: Dr. Sudjarwo
Penerbit: Departemen Pendidikan Nasional
Edisi: Cetakan Pertama, September 2006
Halaman: 76
Ukuran: 15 x 21 x 0.5 cm
Sampul: Soft Cover
Bahasa: Indonesia
Kondisi: Buku Baru
Lokasi: 370/Sud/k

PENDIDIKAN KEAKSARAAN: FILOSOFI, STRATEGI, IMPLEMENTASI, Kusnadi, M.Pd

"Buku Pendidikan Keaksaraan: Filosofi, Strategi, Implementasi sangat komprehensif dengan penyajian yang cukup komunikatif, credible and understanable, karena ditulis oleh orang yang selama ini menggeluti pendidikan keaksaraan, serta dilengkapi dengan ilustrasi yang relevan dan kontekstual. Secara akademis dan praktis sangat layak diterbitkan, mengingat sampai saat ini belum ada tulisan dalam bentuk buku, yang khusus mengkaji tentang pendidikan keaksaraan pada khususnya, dan pendidikan luar sekolah pada umumnya".
Prof. Dr. Udin S. Winataputra

"Semua kompleksitas dari pendidikan keaksaraaan ini secara amat lengkap (mencakup filosofi, strategi dan implementasi) telah diurai dengan baik dan gamblang oleh penulis buku ini. Saya yakin bila pemerintah mau menjadikan buku ini sebagai rujukan untuk penyusunan kebijakan dan implementasi pemberantasan buta aksara, maka secara nasional program ini akan berjalan baik".
Prof. Dr. Paulus Wirutama

"Buku pendidikan keaksaraan ini perlu dijadikan rujukan untuk penyusunan berbagai buku petunjuk teknis penyelenggaraan pemberantasan buta aksara, dalam kerangka pembangunan masyarakat. Petunjuk teknis itu dapat berwujud buku petunjuk tutor, pengelola atau penyelenggara, proses pengelolaan, evaluasi program, proses pembelajaran, dan berbagai macam ketrampilan fungsional yang berkaitan dengan kemandirian para lulusan program keaksaraan fungsional dan masyarakat".
Prof. Dr. Djudju Sudjana

Rp 40.000

Beli Sekarang
sold
Berat (gram)700


INFO BUKU

Judul: Pendidikan Keaksaraan: Filosofi, Strategi, Implementasi
Penulis: Kusnadi, M.Pd
Penerbit: Departemen Pendidikan Nasional
Edisi: Cetakan Pertama, Oktober 2005
Halaman: xxii + 266
Ukuran: 15 x 21 x 2 cm
Sampul: Soft Cover
Bahasa: Indonesia
Kondisi: Buku Baru
Lokasi: 370/Kus/p

URBAN LITERACY, Alan Rogers (ed.)

For many years, views on development have focused on the status of the rural poor living in villages dominated by traditional economic, political and social patterns. recent discussions of poverty reduction, however, have succeeded in drawing attention to the important role played by the inhabitants of cities and towns in the dynamics of development. The present volume significantly advances these discussions by thematizing the relation of urbanization and literacy, literacy practices in urban settings, and literacy and livelihoods. The fruit of a two-year research project, this collection presents case studies from development contexts complemented by analyses offering a more refined understanding of what literacy can mean in urban settings. This work should command the attention of researchers, policy-makers and practitioners worldwide concerned with adult literacy and adult education and their manifold and subtle interconnections with pressing issues of economic, political and social development

Rp 50.000

Beli Sekarang
Tersedia
Berat (gram)700


INFO BUKU

Judul: Urban Literacy: Communication, Identity and Learning in Development Contexts
Penulis: Alan Rogers (ed)
Penerbit: UNESCO Institute fro Education
Edisi: 2005
Halaman: 312
Ukuran: 15.5 x 23.5 x 2 cm
Sampul: Soft Cover
Bahasa: English
Kondisi: Buku Baru
Lokasi: 370/Rog/u

Kode: Masukkan kode negara.
Telepon: Masukkan nomor telepon.


Checkout Sekarang